Pengertian dan Perbedaan Makruh Tahrim, Makruh Tanzih, dan Haram

Masih terdapat sebagian orang yang belum betul betul paham pengertian makruh. Terkadang, terdapat saja yang masih bimbang antara pengertian makruh dengan haram. 2 sebutan tersebut memanglah kerap kali di dengar oleh orang muslim serta muslimah.

Hendak namun bila kamu menekuni literatur fiqih, hingga kan lebih banyak lagi tipe makruh dapat ditemui. Secara universal, seluruh sebutan ini merujuk kepada perbuatan yang dilarang dalam Islam. Penasaran dengan pengertian makna makruh Tahrim, makruh Tanzih serta haram?

Simak saja pembahasan lengkapnya berikut ini.

Makna Makruh Tanzih

Perbuatan yang hukumnya makruh Tanzih ialah perbuatan terlarang tanpa dosa yang menyalahi adab. Misalnya saja semacam minum sembari berdiri, mengipasi santapan panas, mengawali suatu serba kiri dan meninggalkan amalan yang disarankan.

Diistilahkan oleh ulama fiqih, perbuatan makruh tanzih ini selaku perbuatan khilaful aula. Di mana yang berartikan suatu perbuatan menyalahi yang utama ataupun afdhal.

pengertian makruh

Syekh Ibrahim Al- Baijuri mengatakan, perbuatan makruh tanzih pula perbuatan terlarang yang menimbulkan pelakunya berdosa.

وإنما أثم هنا حتى على القول بأن الكراهة للتنزيه للتلبس بالعبادة الفاسدة

Yang artinya:

Hanya seseorang berdosa di sini–meskipun menurut salah satu pendapat ulama–karena makruh tanzih menyerupai ibadah yang rusak,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], cetakan pertama, halaman 197)..

Makna Makruh Tahrim

Ada pula pengertian makna makruh Tahrim ialah perbuatan terlarang yang diresmikan oleh dalil yang memiliki multitafsir. Syekh Ibrahim Al- Baijuri menyebut, contoh makruh tahrim merupakan salat sunnah absolut usai salat Subuh serta salat Ashar.

Al- Baijuri pula menyebut riwayat Imam Muslim yang menggambarkan, Rasulullah SAW melarang beberapa teman- temannya buat salat di 3 waktu. Salah satunya ialah salat usai salat Subuh.

لما رواه مسلم عن عقبة بن عامر رضي الله عنه قال ثلاث ساعات كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهانا أن نصلي فيهن أو نقبر فيهن موتانا حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع وحين يقوم قائم الظهيرة حتى تميل الشمس وحين تضيف الشمس للغروب

Yang artinya:

Seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahabat Uqbah bin Amir RA, ia berkata, ‘Terdapat tiga waktu di mana Rasulullah SAW melarang kami shalat atau memakamkan jenazah kami di dalamnya, yaitu ketika matahari terbit hingga naik, ketika unta berdiri (karena panas atau istiwa) hingga matahari sedikit miring, dan ketika matahari miring hingga terbenam”. (Amati Syekh Ibrahim Al- Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], cetakan awal, taman 197).

Jadi, salat sunnah absolut itu ialah salat sunnah ataupun salat tanpa karena tertentu usai salat Subuh ataupun salat Ashar. Perihal ini masuk ke dalam jenis makruh tahrim semacam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Pemikiran ini pula dipegang oleh Madzhab Syafi’ i.

Perbedaan Makna Makruh Tanzih serta Makruh Tahrim

pengertian makruh

Secara universal sebutan tersebut merujuk pada perbuatan yang dilarang oleh Islam. Syekh Ibrahim Al- Baijuri menerangkan makruh tahrim, makruh tanzih, serta khilaful aula diawali dari makruh tahrim serta makruh tanzih:

والفرق بين كراهة التحريم وكراهة التنزيه أن الأولى تقتضي الإثم والثانية لا تقتضيه

Artinya yaitu:

Perbedaan antara karahatut (makruh) tahrim dan karahatut (makruh) tanzih, adalah yang pertama perbuatan (makruh tahrim) meniscayakan dosa dan yang kedua (makruh tanzih) tidak meniscayakan dosa,”( Amati Syekh Ibrahim Al- Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], cetakan awal, taman 197).

Perbedaan Makna Makruh Tahrim serta Haram

Al-Baijuri lebih lanjut menarangkan terpaut perbandingan makruh tahrim serta haram. Dikala menciptakan kata“ makruh tahrim” serta kata“ haram”, hingga kamu butuh mengingat bila orang yang melaksanakan perbuatan keduanya senantiasa hendak menemukan dosa.

والفرق بين كراهة التحريم والحرام مع أن كلا يقتضي الإثم أن كراهة التحريم ما ثبتت بدليل يحتمل التأويل والحرام ما ثبت بدليل قطعي لا يحتمل التأويل من كتاب أو سنة أو إجماع أو قياس

Yang artinya yaitu:

Perbedaan antara makruh tahrim dan haram–sekalipun keduanya menuntut dosa–adalah makruh tahrim adalah perbuatan terlarang yang didasarkan pada dalil yang mengandung ta’wil. Sedangkan haram adalah perbuatan terlarang yang didasarkan pada dalil qath‘i yang tidak mengandung kemungkinan penakwilan baik dalil Al-Qur‘an, sunnah, ijmak, atau qiyas,” (Amati Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], cetakan awal, taman 197).

Dari uraian Al-Baijuri du atas, dapat ditarik kesimpulan bila perbandingan dari makruh tahrim serta haram terletak pada kepribadian sumber dalilnya. Apabila larangan suatu perbuatan tiba dari dalil yang membolehkan takwil, hingga hal terlarang tersebut masuk ke dalam makruh tahrim.

Hendak namun dikala larangan suatu perbuatan tiba dari dalil qath’i yang tidak dapat ditakwil, hingga perihal terlarang itu tercantum haram.

Default image
Fathurrahman
Owner https://tadjwid.com - Pribadi yang agak sungkan jika bertemu dengan banyak orang disekitar, terus bermuhasabah diri. Salam Kenal 🤝
Articles: 28

Leave a Reply